Selasa, 15 September 2015

DENGAN SEMANGAT IDUL FITRI KITA ATASI PROBLEMA UMAT

Posted by Unknown | 16.32 Categories:
بسم الله الرحمن الرحيم
DENGAN SEMANGAT IDUL FITRI
KITA ATASI PROBLEMA UMAT
Oleh: KH. Yakhsyallah Mansur

اَلْحَمْدُ لِلّهِ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ اتَّبَعَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Pengertian Idul Fitri
Id berarti kembali dan Fitri berarti agama yang benar atau kesucian atau asal kejadian. Fitrah berarti kesucian. Ini dapat dipahami bahkan dirasakan maknanya manakala kita duduk termenung seorang diri. Ketika pikiran mulai tenang, kesibukan hidup dan haru hati telah dapat teratasi, akan terdengar suara nurani mengajak kita untuk berdialog, mendekat bahkan menyatu secara totalitas dengan Allah yang Mahamutlak, yang mengantar kita menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya dan betapa kuasanya yang Maha Mutlak itu. Suara nurani yang kita dengar itu adalah suara fitrah manusia, suara kesucian. Setiap orang memiliki fitrah ini, terbawa sejak lahir, walaupun sering terabaikan karena kesibukan dan dosa yang dilakukan, sehingga suara itu begitu lemah, hanya sayup-sayup terdengar.
Suara itulah yang kita kumandangkan pada Idul Fitri, yaitu Allahu Akbar, Allahu Akbar. Sehingga apabila kalimat-kalimat itu benar-benar tertancap dalam jiwa, maka akan hilanglah segala ketergantungan kepada unsur-unsur lain kecuali kepada Allah semata. Tiada tempat bergantung, tiada tempat menitipkan harapan, tiada tempat mengabdi kecuali Dia.

Fitrah adalah gabungan dari tiga unsur: benar, baik, dan indah. Sehingga orang yang beridul fitri dalam arti, “kembali ke kesuciannya”, akan selalu berbuat benar, baik dan indah. Bahkan lewat kesucian jiwanya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia selalu berusaha mencari sisi baik apa yang terjadi pada dirinya dan berhusnudzan kepada Allah bahwa apa yang ditetapkan untuk dirinya adalah yang terbaik bagi dirinya, karena dia yakin akan besarnya kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (١٥٦)
"dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami". (QS. Al-A’raf: 156)

Problematika Ummat Islam Saat Ini
Di hari Idul Fitri ini sebagian kaum muslimin hidup dalam derita dan krisis. Disamping krisis dalam negeri berupa makin merosotnya moral bangsa, belum stabilnya kondisi ekonomi, dan bencana alam yang terus mendera bumi tercinta ini, dunia Islam kini tengah menderita oleh berbagai luka:
·        Iraq masih dilanda perang saudara akibat kekejaman Amerika Serikat dan sekutunya yang sangat bernafsu menguasai negeri yang pernah menjadi pusat peradaban Islam ini.
·        Muslim Uighur di Cina menanggung kedzaliman, kediktatoran, dan pengusiran dari rezim komunis Cina yang tidak menghendaki kemajuan Islam.
·        Afghanistan dihancurkan, rakyatnya diusir, kota-kotanya dirusak, mesjid-mesjidnya diluluhlantakkan oleh tank-tank musuh. Beribu-ribu pengungsi tidak memperoleh tempat tinggal, air dan makanan. Peperangan Islam dengan pasukan penjajah hingga kini masih terus berlangsung. Pertempuran masih bergejolak hebat antara golongan Allah dengan golongan penghamba setan.
·        Philipina Selatan masih terus membara. Muslim Mindanau yang ingin bebas menegakkan syariat Islam mendapatkan resistensi yang sangat keras dari pemerintah Philipina sehingga ribuan umat Islam harus hidup di bawah tekanan tanpa keamanan dan fasilitas kehidupan yang memadai.
·        Palestina telah dirampas, Mesjidil Aqsha dalam tawanan dan terus digali pondasinya untuk dirobohkan. Sementara orang tua, perempuan dan anak-anak jadi korban setiap pagi dan sore. Mereka terusir dari kampung halamannya, rumah mereka dibolduser oleh rezim biadab Israel sehingga hampir 5 juta bangsa Palestina saat ini hidup di tenda-tenda pengungsian yang tidak dapat menahan dingin panasnya musim.
·        Muslim Rohingya masih berkubang derita. Mereka diusir dari kampung halaman tercinta, kaum pria mereka kanak-kanak sampai tua renta dibantai, kaum wanita mereka diperkosa, ribuan rumah dan mesjid dibakar oleh rezim penguasa dan ribuan orang harus mengungsi karena kerusuhan tidak kunjung henti.

Selain itu, umat Islam juga sedang menghadapi bahaya lain yaitu Ghazwul Fikri (perang pemikiran) yang dilakukan dengan sangat gencar oleh musuh-musuhnya.
·        Kapitalisme pengumbar syahwat, memperdayakan umat Islam dengan memperalat kaum wanita, berpesta pora, berlomba-lomba dengan kemewahan dan permesifme membolehkan segala hal.
·        Sekularisme menyeru kepada pemisahan agama dan dunia, mencabut Islam dari panggung kehidupan dengan dalih ketinggalan zaman dan tidak memperhatikan hak asasi manusia. Sekularisme pada hakikatnya adalah pemikiran tidak bertuhan yang tidak mengakui ajaran agama (Islam) mampu mengatur kehidupan manusia.
·        Pluralisme yang menyamakan semua agama dengan dalih bahwa membedakan agama hanya akan menyebabkan pertentangan umat manusia yang mengakibatkan peperangan. Pemikiran sesat ini menyatakan bahwa agama hanyalah ibarat jalan/sungai menuju satu titik, terserah kepada kita untuk memilih tanpa harus menyatakan bahwa jalan yang dilalui adalah jalan yang paling benar.
·        Freemasonry yang melahirkan Zionisme. Ia datang untuk menghancurkan semua agama termasuk Islam. Ia telah berhasil merusak Islam dengan memecah belah umat Islam menjadi beberapa kelompok, partai, dan golongan.  Keberhasilan terbesar Freemasonry dalam merusak dunia Islam adalah menghancurkan Khilafah Turki Utsmani dan menguasai Palestina berdasarkan "The Heartland Theory." Teori ini singkatnya berbunyi, "Siapa yang menguasai Heartland maka ia akan menguasai World Island. Heartland (jantung bumi) adalah sebutan kawasan Asia Tengah sedangkan World Island mengacu kepada kawasan Timur Tengah. Kedua kawasan ini merupakan kawasan vital minyak bumi dan gas dunia. Teori ini berasal dari ahli geopolitik Inggris terkemuka abad ke-19, Sir Alfred Mackinder (1861-1947). Selanjutnya Nicholas Spykman, sarjana AS, menambahkan, "Siapa menguasai World Island maka ia akan menguasai dunia."

Upaya Mengatasi Problematika
Menghadapi kondisi kaum muslimin seperti ini bagi orang yang berjiwa fitri tidak akan mengeluh apalagi putus asa. Mereka akan bersikap seperti para sahabat di Madinah ketika menghadapi pengepungan dahsyat seluruh Sekutu kafir Jazirah Arab saat itu dalam perang Ahzab (Khandaq). Sikap mereka digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا (٢٢)
"Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. " (QS. Al-Ahzab: 22)

Pada ayat ini digambarkan bahwa ketika para sahabat melihat beribu-ribu tentara kafir dari seluruh penjuru jazirah Arab datang ke Madinah, hati mereka berkata, "Inilah tanda bahwa kemenangan sudah dekat dan tidak akan sampai kemenangan itu kalau hal seperti ini belum kita alami." Lantaran itu, mereka tidak ragu-ragu dan berkata, "Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya." Artinya mereka akan menang setelah mengalami kesukaran. Oleh karena itu, kondisi yang sangat sulit itu justru menambah teguh keimanan dan ketundukan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dan kondisi yang sangat sulit itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyampaikan kabar gembira akan kemenangan umat Islam di berbagai tempat melalui peristiwa sebagai berikut.
Sahabat al-Barra bin Azib r.a. berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan kami menggali parit dan kami menemukan batu besar di salah satu tempat di dalam parit yang tidak bisa dihancurkan. Kami mengadu kepada beliau lalu beliau mendatanginya dan melepaskan bajunya lalu turun menuju ke batu tersebut dan mengambil kapak. Dengan mengucapkan Bismillah beliau mengapaknya dan pecahlah sepertiga batu itu lalu beliau bersabda, "Allahu Akbar, aku diberikan kunci-kunci negeri Syam, dan demi Allah aku melihat kota-kota dan istana merah dari tempatku ini." Lalu beliau mengucapkan Basmalah dan mengapak batu itu lagi dan pecahlah sepertiganya lalu beliau bersabda, "Allahu akbar, aku diberikan kunci negeri Persia dan demi Allah aku melihat kota-kota dan istana putih dari tempatku ini." Kemudian beliau mengucapkan Basmalah dan mengapak batu itu lagi hingga hancur berkeping-keping lalu beliau bersabda, "Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci negeri Yaman dan demi Allah aku melihat pintu-pintu kota Shana dari tempatku ini." (HR. Ahmad).

Hadits ini mendorong kita untuk optimis sambil berusaha keras bahwa kemenangan umat Islam pasti datang dan akan lenyap segala krisis dan penderitaan. Memang berbagai krisis dan penderitaan saat ini sedang melilit sebagian besar umat Islam bahkan cenderung meningkat.  Namun di balik itu semua, kabar gembira dan tanda-tanda akan kemenangan semakin dekat. Sebagaimana kondisi saat perang Ahzab (Khandaq) saat itu. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai fenomena, antara lain pesatnya pertumbuhan pemeluk Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Amerika, makin tingginya kesadaran beragama di kalangan generasi muda, makin terbuktinya kebenaran-kebenaran al-Qur'an, bahkan dari berita terakhir yang kita dengar dari Palestina, banyak orang Yahudi yang masuk Islam. Inilah bukti kebenaran firman Allah:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (٩)
"Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci."
(Q.S. al-Shaff: 9)



Menjaga Fitrah
Hanya perlu diingat, bahwa kemenangan tidak pernah diraih lewat mimpi tetapi perlu usaha keras meskipun dengan sarana seadanya sebagaimana yang telah dibuktikan para sahabat dan salafus soleh sesudahnya.

Usaha keras untuk meraih kemenangan itu antara lain dengan menjaga fitrah (kesucian) jiwa kita. Untuk menjaga agar kita tetap dalam fitrah, Allah telah memberikan tuntunan sebagai berikut:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (۳٠) مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (۳١) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (۳٢)
(30). "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (31). dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32). yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (QS. Al-Ruum: 30-32)

Menurut ayat ini, ada empat hal yang harus dilakukan untuk menjaga fitrah, yaitu:
1)     kembali kepada Allah secara mutlak,
2)     bertaqwa,
3)     menegakkan shalat, dan
4)     meninggalkan perpecahan seperti perilaku orang-orang musyrik, yang masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang pada golongonnya dan merasa golongannya yang paling benar sementara yang lain salah belaka.

Untuk dapat meninggalkan perpecahan, Allah memerintahkan kaum muslimin hidup berjama'ah, sebagaimana firman-Nya:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا.... (١٠۳)
"Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah seraya berjama'ah dan janganlah berpecah-belah." (QS. Ali 'Imran: 103)

Al-Jama'ah menurut Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah:
مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ اَصْحَابِى (رواه الحاكم)
"Orang yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku hari ini." (HR. Al-Hakim).

Jadi al-Jama'ah bukanlah organisasi atau partai atau negara dalam negara. Al-Jama'ah adalah syariat yang menata kehidupan masyarakat Islam sesuai dengan contoh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan para sahabatnya, dimana mereka hidup bersama-sama di bawah seorang pemimpin (Imam). Sebagaimana dikatakan oleh Imam ath-Thabari bahwa al-Jama’ah adalah:
الَّذِيْنَ فِي طَاعَةِ مَنْ اجْتَمَعُوْا عَلَى تَأْمِيْرِهِ
“Orang-orang yang berkumpul bersama-sama untuk mentaati orang yang diangkat sebagai pimpinannya.”

Dalam kehidupan berjama'ah, manusia akan hidup damai, saling menghormati, dan penuh kasih sayang walau berbeda ras, suku, bahkan agama, karena dengan terwujudnya kehidupan berjama'ah akan turun rahmat Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ (رواه أحمد)
"Berjama'ah itu rahmat dan berfirqah-firqah itu azab." (H.R. Ahmad)

Kehidupan semacam ini telah diwujudkan oleh para sahabat di bawah kepemimpinan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di Madinah. Para sahabat yang berasal dari berbagai suku dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, mereka hidup rukun di bawah naungan Islam, sebagaimana digambarkan Allah:
وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung." (Q.S. al-Hasyr: 9)

Sementara itu mereka hidup berdampingan secara damai dengan orang Yahudi sebelum sebelum orang-orang Yahudi melanggar berbagai janji damai yang dibuat bersama bahkan berkali-kali mengadakan makar untuk membunuh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yang mengakibatkan pengusiran mereka dari Madinah.

Kehidupan demikian ini juga telah dilanjutkan oleh para khalifah sesudah beliau, sehingga orang-orang Nasrani lebih senang hidup di bawah Khilafah Islam daripada hidup di bawah raja Nasrani yang berbeda sekte karena mereka akan dipaksa mengikuti sekte sang raja.

Bukti kehidupan damai orang non muslim di bawah khilafah Islam ini dapat kita jumpai sampai sekarang dimana Negara yang mayoritas muslim masih terdapat komunitas orang non muslim dan tempat-tempat ibadah mereka tetap terpelihara.
Michel The Syirian, pemimpin agama Nasrani abad ke-6 di Syiria berkata, “Tuhan yang Maha Pembalas – karena melihat kejahatan orang Kristen Romawi, yang dimana saja mereka berkuasa mereka itu menghancurkan gereja-gereja serta monastri-monastri kami dengan kejam serta menganiaya kami tanpa belas kasih, telah mendatangkan anak-anak keturuan Ismail (umat Islam) untuk membebaskan kita dari mereka... Bebas dari kekejaman Romawi, dari kejahatan serta kemarahan mereka, dari kedengkian mereka yang jahat, dapat menemukan ketentraman dan kedamaian di bawah umat Islam. Semua itu bukan merupakan keuntungan yang kecil.”

Inilah bukti bahwa al-Jama'ah telah mampu mewujudkan rahmatnya Islam bagi umat Islam sendiri dan orang-orang di luar Islam bahkan bagi alam sekitar sebagai realisasi dari firman Allah:
"dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Q.S. al-Anbiyaa': 107)

Dalam rangka menegakkan kembali syariat al-Jama'ah ini, sebagian umat Islam telah membaiat Wali Al-Fattaah sebagai Imaamul Muslimin setelah runtuhnya Dinasti Utsmaniyah di Turki. Setelah Wali Al-Fattaah wafat, dibaiatlah pengganti-penggantinya untuk meneruskan tugas keimamahan hingga saat ini.

Untuk mewujudkan kembali kehidupan berjamaah dan menegakkan kepemimpinan khilafah tidaklah mudah, tetapi kita harus berusaha dan yakin bahwa hal tersebut pasti terwujud, mengingat janji Allah dan Allah tidak mungkin memperselisih janji-Nya, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Q.S. al-Nuur: 55)

Semoga seluruh umat Islam diberi hidayah dan kekuatan oleh Allah untuk mewujudkan sehingga kejayaan umat Islam dalam naungan al-Jama'ah di bawah kepemimpinan seorang Imaam dapat segera merata di seluruh persada bumi. Amin.


Wallahu a'lam bishawab.

UPAYA UNTUK KEMBALI MEMIMPIN DUNIA DENGAN SYARI’AT

Posted by Unknown | 16.31 Categories:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
UPAYA UNTUK KEMBALI MEMIMPIN DUNIA DENGAN SYARI’AT
Oleh: Imaamul Muslimin
KH. Yakhsyallah Mansur
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
وَأَنْ لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ. وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ. (النجم [٥٣]: ٣٩-٤٠)
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).” (Q.S. An-Najm [53]: 39-40)
Kata سَعَىٰ pada mulanya digunakan dalam arti berjalan dengan cepat walau belum sampai pada tingkat berlari. Arti ini berkembang sehingga dia diartikan juga dengan upaya sungguh-sungguh.
Melalui ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan bahwa sesuai dengan sifat keadilan-Nya, hasil pekerjaan manusia itu akan didapat sekedar usaha yang dilakukan. Apabila dia rajin dan sungguh-sungguh, akan mendapat banyak tetapi apabila malas, akan mendapat sedikit bahkan tidak mendapat sama sekali. Apabila hasilnya seperti ini maka dia tidak dapat menyalahkan orang lain.
Dalam perspektif dakwah Islam hal ini dapat kita lihat pada masa kemajuan umat Islam. Tidak kurang dari seribu tahun, umat Islam telah dapat mencapai puncak kemajuan yang sangat tinggi, terutama pada masa sahabat dan Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Akan datang suatu masa kepada manusia yang ketika mereka berperang, mereka ditanya, “Adakah sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di antara kalian?” Mereka menjawab, “Ya.” Merekapun mendapat kemenangan. Mereka kemudian berperang dan ditanya, “Adakah di antara kalian sahabat dari sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam?” Mereka menjawab, “Ya.” Merekapun mendapat kemenangan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Masa Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin hanya berlangsung 30 tahun, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
الْخِلَافَةُ بَعْدِيْ ثَلَاثُوْنَ سَنَةً (الترمذي)
“Khilafah sesudahku berlangsung 30 tahun.” (H.R. At-Tirmidzi)
Meski demikian, kaum Muslimin pada masa Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu telah menyebar ke seluruh penjuru termasuk ke Cina.
Keberhasilan para Sahabat tersebut merupakan realisasi janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ. (النور [٢٤]: ٥٥)
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. An-Nur [24]: 55)
Imam Syafi’i mengatakan, “Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa para Sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berangan-angan untuk mengalahkan penduduk Makkah (yang saat itu masih kafir). Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat ini yang merupakan sumpah Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menjadikan orang yang beriman dan beramal shalih sebagai khalifah di muka bumi yang akan mengatur dunia dengan syariat-Nya.” An-Nahhas menjelaskan bahwa sumpah tersebut telah direalisasikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan Fathu Makkah dan berbondong-bondongnya manusia memeluk Islam.
Al-Imam As-Sa’di mengatakan, “Janji Allah dalam ayat ini akan senantiasa berlaku sampai hari Kiamat selama umat Islam menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang kafir dan munafik pada sebagian masa dan berkuasanya mereka atas umat Islam, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran umat Islam dalam iman dan amal shalih.”
Oleh karena itu apabila umat Islam saat ini ingin kembali berjaya memimpin dunia dengan syariat Islam maka syaratnya adalah memantapkan iman dan amal shalih sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para Sahabat serta generasi sesudahnya.
Iman dan Amal Shalih Para Shahabat dan Generasi Sesudahnya
Iman dan amal shalih para shahabat dan generasi sesudahnya sehingga mereka dapat meraih puncak kemajuan tercermin pada sikap mereka, antara lain:
1.      Ketha’atan dan Kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Sikap mereka mencintai dan mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat mengagumkan. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Urwah bin Mas’ud menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam perjanjian Hudaibiyah dan melihat perlakuan para Shahabat kepada beliau. Ketika beliau berwudlu, mereka memperebutkan air bekas wudlunya, ketika beliau membuang ludah, mereka memperebutkan ludahnya, dan ketika helai rambut beliau jatuh, mereka mengambilnya. Ketika Urwah kembali ke Makkah, dia menceritakan hal itu kepada kaumnya dan berkata, “Kaum apa itu? Demi Tuhan, aku telah diutus ke sejumlah penguasa. Aku telah diutus kepada kaisar kisra dan raja Najasyi. Demi Tuhan, Aku tidak pernah melihat seorang penguasa yang dihormati sedemikian rupa oleh pengikutnya seperti penghormatan yang diberikan para pengikut Muhammad kepada Muhammad. Demi Tuhan, jika beliau membuang dahak, pasti dahak itu jatuh ke telapak tangan salah seorang di antara mereka lalu dilumurkan dahak itu ke wajah dan kulitnya. Jika beliau berwudlu, mereka memperebutkan air bekas wudlunya. Jika beliau berbicara, mereka diam menyimaknya. Dan mereka tidak pernah menatap beliau dengan tajam karena hormat kepada beliau.

Kecintaan ini pula yang tampak di perang Uhud. Ketika para Shahabat melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam terluka, wajahnya penuh darah, para Shahabat segera merapat melindungi beliau. Ali bin Abi Thalib memegang tangan beliau, Thalhah mengangkat beliau hingga dapat berdiri. Malik bin Sinan menghisap darah yang ada di muka beliau. Abu Ubaidah bin Jarrah mencabut ujung besi yang menembus pipi beliau hingga gigi taringnya tanggal. Lalu mencabut ujung besi di pipi sebelahnya hingga gigi taring yang lainnya juga tanggal. Abu Dujanah menjadikan dirinya sebagai tameng bagi beliau sehingga punggungnya menjadi sasaran, penuh anak panah.

Ketika pasukan musuh terus merangsek maju, sepuluh Shahabat segera melindungi beliau hingga semuanya terbunuh, Thalhah bin Ubaidillah kemudian datang untuk melindungi beliau. Abu Bakar menggambarkan pengorbanan Thalhah sebagai berikut, “Aku adalah orang yang mula-mula mendapatkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam di tengah kekacauan perang Uhud. Maka beliau berkata kepadaku dan Abu Ubaidah bin Jarrah, “Tolonglah saudaramu itu (Thalhah), lalu kami menengoknya dan ternyata sekujur tubuhnya terdapat lebih tujuh puluh luka berupa tancapan anak panah, tusukan tombak dan sobekan pedang dan ternyata anak jarinya terputus maka kami segera merawatnya dengan baik.”

2.      Rela Mengorbankan Segalanya Untuk Islam

Hal ini tampak dalam peristiwa hijrah ke Madinah. Ali bin Abi Thalib tidur di kasur Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada malam beliau hijrah ke Madinah. Ini berarti sejak awal dia rela mengorbankan nyawanya demi beliau.

Suatu hari rombongan kafir Quraisy, di antaranya Utbah bin Rabiah melintasi rumah Jahsy yang akan hijrah ke Madinah. Utbah melihat rumah itu kosong tanpa penghuni berkata, “Rumah keluarga Jahsy kosong ditinggal penghuninya.” Mereka meninggalkan segalanya, rumah mereka, keluarga mereka dan ternak mereka.

Ketika Abu Bakar berhijrah ke Madinah, ia tidak membawa seorangpun keluarganya. Ia tidak membawa istri, ayah ataupun anaknya. Ia meninggalkan semuanya di Makkah dan berhijrah bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Sementara itu putrinya, Asma’ berhijrah dalam keadaan mengandung Abdullah bin Zubair. Dia memberanikan diri mengarungi padang pasir yang gersang meninggalkan kota Makkah yang sangat dicintainya. Ketika mendekati daerah Quba yang berada di sebelah Timur Madinah dia melahirkan anaknya.

Shuhaib bin Sinan ketika berhijrah telah meninggalkan segala kekayaan berupa emas, perak, dan sebagainya yang dikumpulkan dengan menghabiskan masa mudanya tanpa merasa rugi. Sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman mengenai dirinya:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ. (البقرة [٢]: ٢٠٧)
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 207)

Maka ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melihat dia sampai di Madinah beliau menyambutnya dengan bersabda:

رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى، رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى
“Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya, beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya.”

3.      Konsistensi Terhadap Al-Qur’an

Para Shahabat adalah orang-orang yang sangat senang dan konsisten membaca Al-Qur’an, setelah membacanya mereka berusaha mengamalkannya. Abdurrahman As-Sulami berkata, “Para Shahabat tidak menambahnya (belajar Al-Qur’an) sampai memahami dan mengamalkannya.”

Abu Thalhah orang yang sangat tua dan telah lemah. Suatu ketika saat membaca Al-Qur’an dan sampai pada:
انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ. (التوبة [٩]: ٤١)
“Berangkatlah kalian baik dalam keadaan ringan maupun berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengerti.” (Q.S. At-Taubah [9]: 41)

Lalu dia memanggil anak-anak dan istrinya. Dia berkata kepada mereka, “Aku merasa Allah meminta berjuang baik dalam kondisi muda maupun tua. Siapkan bekalku.” Anak-anaknya berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada ayah. Bukankah ayah telah berjuang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam hingga beliau wafat. Juga dengan Abu Bakar dan Umar. Sekarang biarkanlah kami berperang menggantikanmu.” Dia menjawab, “Tidak, kalian mesti mempersiapkan untukku.” Anak-anaknya tidak dapat mencegahnya. Oleh karena itu mereka mampu siapkan bekalnya dan berperanglah dia mengikuti armada Islam di laut akhirnya meninggal dalam pertempuran itu.

Abu Ayyub Al-Anshary shahabat yang rumahnya pertama kali ditempati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam setelah beliau di Madinah adalah salah seorang yang mendengar sabda beliau:
لَتَفْتَحُنَّ الْقَنْسْطَنْطَانِيَّةُ فَخَيْرُ الْأَمِيْرِ أَمِيْرُهَا وَخَيْرُ الْجُيُوْسِ جُيُوْسُهَا. (رواه احمد)
“Kalian akan membebaskan Konstantinopel, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” (H.R. Ahmad)

Oleh karena itu dia selalu mengikuti setiap peperangan agar dapat masuk dalam hadis yang dinubuwahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Maka ketika Yazid bin Mu’awiyah mengumumkan untuk membebaskan kota Konstantinopel, walaupun umurnya telah mencapai sekitar 80 tahun, dia bertolak dari Madinah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Bulan demi bulan pembebasan itu belum terwujud.

Akhirnya kepenatan menimpa shahabat yang sudah renta itu. Ketika menjelang wafat, Yazid menanyakan permintaan terakhirnya, ia berkata, “Jika aku meninggal bawalah jasadku ke tempat negeri musuh yang paling jauh kemudian kuburkanlah aku dan kembalilah.” Yazid melaksanakan permintaannya tersebut.

Kira-kira enam abad kemudian, di bawah komandan Muhammad Al-Fatih umat Islam berhasil membebaskan Konstantinopel yang kemudian diubah menjadi Istambul (Islambul). Muhammad Al-Fatih memerintahkan mencari kuburan Abu Ayyub Al-Anshari kemudian didirikan masjid di dekat kuburan tersebut.

Konsistensi para Shahabat dapat juga kita lihat bagaimana reaksi mereka terhadap firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
لَنْ تَنَالُوْا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيْمٌ. (ال عمران [٣]: ٩٢)
“Sekali-kali kalian tidak akan mencapai kebaikan, sebelum kamu mendermakan sebagian dari hasil yang kamu sayangi. Dan apa juapun yang kamu dermakan itu sesungguhnya Allah mengetahui.” (Q.S. Ali Imran [3]: 92)

Setelah ayat ini turun, bukan main besar pengaruhnya kepada para Shahabat. Seorang Shahabat yang juga bernama Abu Thalhah mempunyai kekayaan satu-satunya yang amat dibanggakan, yaitu kebun bernama Bairuhaa’, tidak berapa jauh dari Masjid Madinah. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sering singgah ke kebun itu meminum airnya yang sejuk. Nama Abu Thalhah amat terkenal karena kebunnya yang subur itu. Tetapi setelah ayat itu turun, masuklah pengaruhnya ke dalam hati Abu Thalhah. Dia terus menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata, “Aku akan mengamalkan wahyu Allah itu, ya Rasulullah. Kekayaan yang paling aku cintai, sehingga tidak ada yang lain lagi adalah Bairuhaa’. Terimalah dia sebagai sedekahku, ya Rasulullah dan aku kuasakan kepada anda untuk menyerahkannya kepada siapa yang patut menerimanya. Lalu beliau menguasakan kepada Abu Thalhah sendiri untuk membagikannya kepada keluarga dekatnya. Menurut riwayat Muslim, harta itu diberikannya kepada Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.

Dalam rangka mengamalkan ayat ini pula Zaid bin Haritsah, bekas anak angkat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membawa kudanya yang sangat dicintai yang bernama Subul kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata, “Aku ingin mengamalkan ayat itu, ya Rasulullah. Inilah kudaku, sebagaimana yang engkau tahu, adalah yang paling aku cintai. Terimalah dia sebagai sedekahku dan berikanlah kepada yang patut menerimanya.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menerimanya dan menyerahkannya kepada Usamah bin Zaid, putra Zaid sendiri.

Abu Hasan Al-Anthaki bercerita, pada suatu hari berkumpul lebih 30 orang ulama di suatu desa dekat negeri Raiy (Teheran sekarang). Hari telah malam, semuanya lapar, sedang roti hanya beberapa potong saja, tidak cukup untuk makan orang lebih dari 30 orang. Maka ada di antara mereka mengambil roti yang sedikit itu dan memecahnya lalu meletakkan di tengah-tengah, sedang lampu mereka padamkan. Setelah lampu padam kedengaran ada yang pergi mengambil roti itu berganti-ganti, mengecap-ngecap mulut seperti orang makan lalu terus pergi tidur dan mengatakan kepada yang belum makan, bahwa makanan masih banyak. Setelah siang kelihatanlah bahwa roti masih utuh. Tidak seorangpun yang makan, hanya pura-pura makan karena semua memikirkan temannya, agar temannya makan walau dia sendiri lapar. Inilah realisasi dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. (الحشر [٥٩]: ٩)
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan am kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)
Secara tekstual ayat ini menggambarkan kelebihan dan pujian Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada orang Anshar:

Pertama, mereka telah menunggu orang Muhajirin di kota tempat mereka dengan tetap dalam iman.

Kedua, mereka mencintai saudara-saudara mereka yang datang menumpang.

Ketiga, mereka tidak merasa keberatan jika orang Muhajirin mendapat bagian lebih banyak.

Keempat, mereka lebih mengutamakan orang Muhajirin dari pada diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri dalam kesusahan.

Kelima, mereka sanggup mengatasi sifat kikir sehingga mereka mendapat kemenangan.


Semoga kita mampu meniru mereka. Wallahu A’lam bis Shawwab

Rabu, 10 Juli 2013


Oleh: KH. Drs. Yakhsyallah Mansur, M.A.*

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”  (Q.S. Ali Imran [3]: 26)

Jumat, 31 Mei 2013



Mohon maaf ikhwan dan akhwat...

Untuk infak / donasi pembelaan Islam dan Muslimin ada pergantian nomor rekening dari sebelumnya 74757475** menjadi 7645362793.

Bank Syariah Mandiri


atas nama

MI'RAJ NEWS AGENCY FOUNDATION

Jazakumullohu khoiron katsir
Istanbul, 21 Rajab 1434/ 31 Mei 2013 (MINA) – Anggota Komisi Hukum Kasus Mavi Marmara, Rabia Yurt menegaskan, Israel sangat ketakutan jika sidang kasus Mavi Marmara dilanjutkan, karena dapat menyeret para pejabat tingginya serta pihak terlibat untuk diadili di Turki.

“Inilah yang paling ditakuti Israel karena mereka selama merasa kebal hukum,” tegas Rabia Yurt kepada Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency) di Istanbul, Turki, Kamis (30/5).

Dia mengungkapkan, setelah keputusan dibuat hakim, pemerintah Israel tidak akan memiliki kekebalan hukum lagi atas kejahatan yang mereka lakukan.

Rabia Yurt mengharapkan, para pejabat tinggi militer Israel dan pihak yang terlibat insiden penyerangan kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza melalui kapal Mavi Marmara itu dapat segera ditangkap dan diadili.

“Kami berharap Pengadilan Tinggi Pidana Turki segera mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi para pejabat militer Israel yang terlibat kasus Mavi Marmara,” kata Yurt.

Sejumlah 34 saksi dari Turki dan lima korban asing serta pengadu memberikan kesaksian dalam persidangan ketigain-absentia (tanpa kehadiran terdakwa) kasus tersebut, di pengadilan Caglayan, Istanbul, Turki pada 20-21 Mei 2013 yang lalu.

Pada akhir persidangan, jaksa penuntut meminta hakim Pengadilan Tinggi Pidana Turki  segera melibatkan interpol dalam rangka menangkap empat petinggi militer Israel yang dituntut untuk mengikuti persidangan di Turki, sebab selama ini tidak pernah hadir.

Keempat pejabat militer tinggi Israel yang disidang terdiri dari mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letjen Gabi Ashkenazi; Panglima Angkatan Laut Israel, Laksamana Eliezer Marom; Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Amos Yadlin dan Kepala Intelijen Angkatan Udara Israel, Brigjen Avishai Lev.

Sidang dilanjutankan pada 10 Oktober 2013 mendatang dengan mengupayakan kehadiran empat petinggi militer Israel itu.

Dakwaan Berlapis

Surat dakwaan dengan nomor file 2012/264 disusun pertama kali pada 29 Mei 2012. Dakwaan yang diajukan berlapis, yaitu pembunuhan disengaja, percobaan pembunuhan disengaja, sengaja menyebabkan cedera serius, sengaja menjarah, pembajakan dan merampas di wilayah perairan internasional, sengaja menyebabkan kerusakan barang-barang, pembatasan kebebasan berekspresi dan kejahatan kekerasan dengan penyiksaan atau penganiayaan.

Dalam dokumen itu, penggugat menuntut hukuman bagi mereka yang terlibat dalam serangan tersebut dengan hukuman penjara ribuan tahun untuk setiap korban secara terpisah.

Pihak lain, termasuk dari kalangan militer yang terlibat diadili setelah semua laporan investigasi atas empat petinggi militer Israel selesai.

Permintaan Manfaat

Anggota Komisi Hukum Mavi Marmara Rabia Yurt menegaskan, meskipun Israel meminta maaf dan membayar kompensasi korban Mavi Marmara, pengadilan Tinggi Pidana Turki tetap melanjutkan sidang dan mengadili para pelaku tersebut.

Menurutnya, pembayaran kompensasi adalah salah satu dari sejumlah prasyarat untuk normalisasi hubungan diplomatik antara Turki dengan Israel. Namun, hal itu tidak ada hubungannya dengan sidang itu, karena merupakan kasus pidana umum.

Serangan terhadap kapal Mavi Marmara yang mencoba menembus blokade Gaza dengan membawa bantuan kemanusiaan, akhir Mei 2010 lalu, memang merusak hubungan diplomatic kedua negara tersebut.

Pemerintah Turki menuntut permintaan maaf secara resmi dan pemberian kompensasi bagi keluarga korban serangan, serta pencabutan blokade Israel terhadap Gaza.

“Meskipun Israel ingin sidang ini diselesaikan dengan permintaan maaf dan ganti rugi, tetapi keinginan Israel itu tidak mungkin terwujud secara hukum,” tambahnya.

Pembicaraan Kompensasi dimulai pada akhir Maret 2013, setelah Israel menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada Turki.

Mi’raj News Agency (MINA)


Selasa, 07 Mei 2013


Yerusalem, 27 Jumadil Akhir 1434/7 Mei 2013 (MINA) – Yayasan Al-Aqsa Palestina memperingatkan skema Israel Kedem Yershalaim yang bertujuan membangun rumah ibadat Yahudi terbesar pada salah satu kawasan kompleks Masjid Al-Aqsa Palestina.

“Itu jelas Yahudisasi Yerusalem dan pendudukan Masjid Al-Aqsa melalui proyek-proyek pembangunan tempat ibadat Yahudi. Enam tahun mendatang proyek itu selesai, jika tidak dihentikan,” kata Syeikh Ra'id Shalah, tokoh pergerakan Palestina, Senin (6/5).

Pejabat Israel mencoba mendistribusikan memo melalui cara rahasia pada skala internasional untuk mendapatkan dukungan politik, media dan keuangan.

Syeikh Abdul Rahman Yusuf Al-Jamal Al-Hafidz, Pimpinan Ma'had Tahfidz Dar Al-Quran Al-Karim Wa Sunnah Gaza, Palestina, memberikan tausiyah Pembukaan Daurah Tahfidzul Quran "Taajul Waqar Lil Aqsha Intishar" di Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Lampung, Indonesia, Ahad 7 Shafar 1433 H. / 1 januari 2012 M. (MINA/Al-Fatah)
Jakarta, 27 Jumadil Akhir 1434/7 Mei 2013 (MINA) – Dalam rangka meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Quran di Indonesia, Pesantren Al-Fatah Indonesia bekerjasama dengan Ma'had Tahfdiz Dar Al-Quranul Al-Karim Wa Sunnah Gaza, Palestina, menyelenggarakan Pelatihan (Daurah) Tahfidzul Quran Taajul Waqaar kedua di Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, 7 Mei hingga 10 Juni 2013.

Taajul Waqaar (Mahkota Kejayaan), merupakan program akselerasi (percepatan) sejenis pesantren kilat 1-2 bulan pada musim liburan yang khusus untuk menghafal Al-Quran. Program ini secara rutin diselenggarakan di Gaza, Palestina, pada masa liburan sekolah.

Program itu sudah ada sejak lama di Gaza. Namun baru ditertibkan dengan dibentuk sebuah lembaga formal bernama Dar Al-Quranul Al-Karim Wa Sunnah sejak 2006. Pesantren Al-Fatah Indoesia ditunjuk oleh Dar Al-Quranul Al-Karim Wa Sunnah Gaza sebagai perwakilan dan koordinator pengembangan Taajul Waqaar di Indonesia.
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube